Rabu, 28 September 2011

untu orang yang ku cintai

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

madah cinta

Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi," Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?". Jawab titis air mata kedua tu," Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja."
Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.

salam`alaikum

cinta itu apabila kamu bertemu dan membuat pilihan yang tepat,apabila percintaan tidak berkekalan,mungkin tuhan menginginkan kita berteu dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat,kita harus mengerti dan berterima kasih dengan kurnian itu

Ahad, 25 September 2011

``aku mencintai mu kerana agama yang ada padamu...
                         jika kau hilangkan agama dalam dirimu...
                                                   hilanglah cintaku padamu"
                              (imam nawawi)                  

pengorbanan seorang ibu...

Ini adalah kisah benar pengorbanan seorang ibu semasa Gempa Bumi di China.
Selepas gempa bumi reda, apabila penyelamat tiba di runtuhan rumah seorang wanita muda, mereka melihat mayat beliau melalui celah runtuhan dan timbunan tanah. Tetapi entah bagaimana ia kelihatan agak aneh seperti melutut pada seseorang dan menyembah ke hadapan, dan dua tangannya menyokong sesuatu objek. Rumah runtuh itu telah menghempas belakang dan kepalanya.

Dengan usaha yang sukar, ketua pasukan penyelamat meletakkan tangannya melalui celahan yang kecil di dinding untuk mencapai badan wanita tersebut. Dia berharap bahawa wanita ini mungkin masih hidup. Walau bagaimanapun, badannya yang sejuk dan kaku membuktikan bahawa wanita itu telah meninggal dunia.
Dia dan seluruh pasukan meninggalkan rumah itu dan mencari mangsa pada bangunan runtuh yang seterusnya. Tanpa sebarang alasan, ketua pasukan ini didorong oleh satu kuasa yang kuat menariknya untuk kembali ke rumah wanita yang runtuh itu. Sekali lagi, dia melutut dan melalui celahan runtuhan yang sempit untuk meninjau keadaan mayat itu. Tiba-tiba, dia menjerit kegirangan, "Seorang kanak-kanak! Ada kanak-kanak! "
Seluruh pasukan bekerja bersama-sama dengan berhati-hati mereka memindahkan objek runtuhan yang menghempas wanita itu hingga mati. Terdapat seorang kanak-kanak lelaki berusia 3 bulan yang dibalut dengan selimut berbunga di bawah mayat ibunya. Jelas sekali, wanita itu telah berkorban hingga ke akhir hayatnya untuk menyelamatkan anaknya. Apabila rumahnya runtuh, dia menggunakan tubuhnya untuk melindungi anaknya. Budak lelaki itu masih tidur dengan nyenyak semasa ketua pasukan penyelamat itu menemuinya.
Doktor bergegas datang untuk memeriksa anak kecil tersebut. Selepas beliau membuka selimut, terdapat telefon bimbit di dalam selimut itu. Tertera teks mesej pada skrin telefon bimbit itu, "Jika kamu boleh hidup, kamu harus ingat bahawa ibu sayang kamu." mesej ini telah dihantar dari satu tangan ke tangan yang lain. Setiap individu yang membaca mesej pasti menangis. "Jika kamu boleh hidup, kamu harus ingat bahawa ibu sayang kamu." Begitulah kasih sayang seorang ibu pada anaknya!!

Sabtu, 24 September 2011

TANGISAN BILAL BIN RABAH -Radhiallaahu

TANGISAN BILAL BIN RABAH -Radhiallaahu 'Anhu, MUAZIN RASULULLAH -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam


Jika nama Abu Bakar disebut, Al-Faruq Umar bin al-Khaththab -Radhiallaahu 'Anhu berkata, "Abu Bakar adalah tuan kami, dan dia membebaskan tuan kami." Yakni Bilal. Orang yang disebut Umar sebagai "tuan kami" adalah benar-benar orang yang mulia dan mempunyai kedudukan yang agung.

Ia adalah mu'adzin Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam. Ia adalah hamba yang disiksa oleh tuannya dengan batu yang telah dipanaskan un-tuk memurtadkannya dari agamanya, tapi ia berkata, "Ahad, Ahad (Allah Yang Esa)."

Ia hidup sebagai hamba sahaya, hari-harinya berlalu tanpa beda dan buruk. Ia tidak punya hak pada hari ini, dan tidak punya harapan pada esok hari. Seringkali ia mendengar tuan-nya, Umayyah, berbicara bersama kawan-kawannya pada suatu waktu dan para anggota kabilah di waktu lain tentang Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam, dengan pembicaraan yang meluapkan amarah dan ke-dengkian yang sangat.

Pada suatu hari Bilal bin Rabah mengetahui cahaya Allah, lalu ia pergi menemui Rasulullah a dan mengikrarkan keisla-mannya. Setelah itu ia menghadapi berbagai macam penyiksaan, tapi ia tetap tegar bagai gunung. Ia diletakkan dalam keadaan telanjang di atas bara api. Mereka membawanya keluar pada siang hari ke padang pasir, dan mencampakkannya di atas pasir-pasir yang panas dalam keadaan tak berbaju. Kemudian mereka membawa batu yang telah dipanaskan yang diangkut dari tem-patnya oleh sejumlah orang dan meletakkannya di atas tubuh dan dadanya. Siksa demi siksa berulang-ulang setiap hari, tapi ia tetap tegar. Hati sebagian penyiksanya menjadi lunak seraya berkata, "Sebutlah Lata dan Uzza dengan baik." Mereka me-nyuruhnya supaya memohon kepadanya tapi Bilal menolak untuk mengucapkannya, dan sebagai gantinya ia mengucapkan senandung abadinya, "Ahad, Ahad".

Abu Bakar ash-Shiddiq -Radhiallaahu 'Anhu datang pada saat mereka menyiksanya, dan meneriaki mereka dengan ucapan, "Apakah kalian membunuh seseorang karena berucap, 'Rabbku adalah Allah?'." Abu Bakar meminta kepada mereka untuk menjualnya kepadanya. Umayyah memang berkeinginan untuk menjualnya. Akhirnya Abu Bakar rhu membelinya dengan harga yang berlipat ganda dari Umayyah. Setelah itu dia membebaskannya, dan Bilal mulai menjalani kehidupannya di tengah-tengah orang-orang mer-deka... para sahabat yang taat lagi berbakti. Ketika Abu Bakar memegang tangan Bilal untuk membawanya, maka Umayyah berkata kepadanya, "Ambillah! Demi Lata dan Uzza, seandainya kamu menolak kecuali membelinya dengan satu uqiyah, niscaya aku menjualnya kepadamu dengan harga itu." Abu Bakar rhu menjawab, "Demi Allah, seandainya kamu menolak kecuali seharga seratus uqiyah, niscaya aku membayarnya."

Setelah Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam hijrah ke Madinah, Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam me-nyariatkan adzan untuk shalat, dan pilihan jatuh pada Bilal sebagai mu'adzin pertama untuk shalat. Ini pilihan Rasulullah saw. Bilal pun melantunkan suaranya yang menyejukkan dan menggembirakan, yang memenuhi hati dengan iman, dan pendengaran dengan keindahan. Ia menyeru, "Allahu Akbar, Allahu Akbar" dan seterusnya. Ketika datang perang Badar, dan Allah menyampaikan urusannya, Umayyah keluar untuk berperang... Dan ia jatuh tersungkur dalam keadaan mati di tangan Bilal -Radhiallaahu 'Anhu.

Pemimpin kekafiran mati tertusuk oleh pedang-pedang Islam sebagai balasan buat Bilal yang berteriak setelah terbunuh-nya, "Ahad, Ahad." Hari-hari berlalu, Makkah ditaklukkan, dan Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam masuk Makkah dengan ditemani Bilal. Kebenaran telah datang, dan kebatilan telah sirna. Bilal mengikuti semua peperangan bersama Rasul -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam dan mengumandangkan adzan untuk shalat. Ia terus menjaga syiar agama yang agung ini. Sampai-sampai Rasul -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam menyifatinya sebagai "seorang pria ahli surga". Dan Rasul -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam berpulang ke haribaan Allah dalam keadaan ridha lagi diridhai. Sepeninggal beliau, sahabatnya dan khalifahnya, Abu Bakar ash-Shiddiq -Radhiallaahu 'Anhu bangkit memimpin urusan kaum muslimin. Bilal pergi menemui ash-Shiddiq seraya berkata kepadanya, "Wahai Khalifah Rasulullah, aku mendengar Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam bersabda,


'Amalan mukmin yang paling utama ialah berjihad di jalan Allah'."*

Abu Bakar bertanya kepadanya, "Apakah yang engkau kehendaki, wahai Bilal?" Ia menjawab, "Aku ingin murabathah (siap siaga berperang) di jalan Allah hingga aku mati." Abu Bakar bertanya, "Lantas siapa yang mengumandangkan adzan untuk kami?!"

Bilal berkata, sementara kedua matanya mengalirkan air mata, "Sesungguhnya aku tidak mengumandangkan adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam ." Abu Bakar berkata, "Tetaplah mengumandangkan adzan untuk kami, wahai Bilal." Bilal berkata, "Jika engkau memerdekakan aku agar aku menjadi milikmu, lakukan apa yang engkau suka. Jika engkau memerdekakan aku karena Allah, biarkanlah aku berikut pembebasan yang kau berikan kepadaku." Abu Bakar berkata, "Aku memerdekakanmu karena Allah, ya Bilal."

Bilal kemudian melakukan perjalanan ke Syam yang di sana ia terus menjadi mujahid dan selalu siap sedia untuk berjihad. Konon, ia berkali-kali datang ke Madinah dari waktu ke waktu ... tapi ia tidak mampu mengumandangkan adzan. Hal itu karena setiap kali hendak mengucapkan, "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah" (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah), kenangan-kenangan masa lalu menahan dirinya, lalu suaranya tersembunyi di kerongkongannya, dan sebagai gantinya air matanyalah yang meneriakkan kata-kata itu.**

Akhir adzan yang dikumandangkannya ialah pada saat Khalifah al-Faruq Umar bin al-Khaththab -Radhiallaahu 'Anhu mengunjungi Syam. Kaum muslimin meminta Khalifah membawa Bilal agar mengumandangkan adzan untuk shalat mereka. Amirul Mu'minin memanggil Bilal, sementara waktu shalat telah tiba. Umar berharap kepadanya agar mengumandangkan adzan untuk shalat. Bilal pun naik dan mengumandangkan adzan... maka menangislah para sahabat yang pernah bersama Rasulullah saw ketika Bilal mengumandangkan adzan untuk beliau. Mereka menangis seakan-akan mereka tidak pernah menangis sebelumnya, selamanya.

Bilal meninggal di Syam dalam keadaan bersiap siaga di jalan Allah, sebagaimana yang dikehendakinya. Semoga Allah meridhainya dan menjadikannya ridha kepadaNya.

``berikanlah kasih sayang,nescaya kamu akan di kasihi,berilah keampunan.nescaya akan di beri keampunan(riwayat imam ahmad)

di mana ada benci,biar kita yang membalas dengan kasih sayang...
di mana ada hati yang terluka,di situ kita yang menjadi penghiburnya...
di mana ada keraguan,di situ kita yang menyakinkan...
di mana ada putus asa,di situ kita menebarkan harapan...
di mana ada kesedihan.di situlah kita berkongsi bahagia...
di mana ada kegelapan,di situlah kita membawa cahaya..

(jadilah sumber inpirasi kepada orang lain)

sajak buat sahabat seperjuangan

Ingatlah sahabat…
Bunga itu menguntum indah,
Menyeri dan mekar memerah,
Dipuji dengan berbagai-bagai madah,
Esoknya bunga itu gugur ke tanah,
Serpih demi serpih ia punah,
Tanpa daun dan kelopaknya musnah.
Sahabatku…
Engkau bukan layu seperti bunga,
Dan aku bukan kumbang yang akan mengambil madunya,
Lambang bunga lambang sementara cuma,
Tetapi perjuangan kita tiada penghujungnya,
Daerah kita bukan daerah cinta,
Bukan masanya untuk memujuk kasih asmara,
Tiada senda gurau memanjang yang meleka,
Kerana kita dalam memperjuangkan agama.
Sahabatku..
Disini uda dan dara telah berkubur,
Kita bina atasnya jihad yang subur.
Ingatlah sahabat…
Bumi kita bumi yang payah,
Penuh peluh, air mata dan mungkin darah,
Bila kita jejak tapaknya perlu punyai wadah,
Ikuti dibelakang ulama’ supaya tak goyah,
Bila dikatakan pada mu: Perjuangan itu amat susah,
Kau katakanlah kembali: Aku mengharap hanya keredhaan dari Allah.
Sahabatku…
Semalam telah layu sekuntum bunga,
Telah gugur dari jambangannya,
Tetapi itu bukan perjuangan kita,
Bukanlah itu sebagai lambangnya,
Mulut telah kaku untuk bertanya,
Hati malu untuk memikirkannya,
Tidak seperti dahulunya,
Kita kuat berhujah dan bersuara.
Ingatlah sahabatku..
Kerana dulu dan kini kita tetap seorang mujahid,
Yang merindukan dan memburu syahid,
Maaf kiranya tuturku yang pahit.
Senyumlah sahabat..
Senyumlah dan serilah wajah,
Walau pudar dan hambar datang tak sudah,
Belajarlah menjadi seorang mujahid dan mujahidah,
Doaku agar kita berani seperti Hamzah,
Malah punyai semangat seperti Sumaiyah.
_________________
jadilah sahabat yang baik…
Memang sudah menjadi fitrah semulajadi manusia ingin berkawan dan bersahabat.
Sahabat sejati ialah yang sentiasa bantu membantu dalam mengerjakan kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Binalah nilai seorg sahabat yg baik..

permata kata

Diam dan jujur sifat yang disukai

Semoga kita menjadi orang yang banyak diam atau orang yang selalu jujur kerana diam itu keselamatan dan baik; dan jujur itu suatu kemuliaan yang disukai oleh Allah dan manusia.

Assalamualaikum

Alhamdulillah akhirnye aku berjaya membuat blog yang tak seberapa ni...sekian lama menginginkan ade blog.tapi tak tercapai..baru hari semalam start buat n hari ni dah jadi kenyataan..berjaya juga akhirnye...hahaha...hebat jugak aku ni..(bangga skit)jangan marah....hehe..pada rodhong2 (kawan2)klu dah jengok nanti bagi la komen2 yang bernas skit no...jangan kutuk sudah...tu je buat masa skang..takde modal agi nak merepek panjang2..lain kali la plok..wassalam